Agustus 03, 2011

Nasehat tanpa kata

Beberapa bulan terakhir ini, aku mendapat nasehat yang... tak banyak kata terucap...tapi cukup bahkan sangat cukup mengingatkan diri yang lemah ini akan makna kehidupan itu sendiri.

Ya. beberapa orang tua temanku pergi menemuiNya. Sebagiannya cukup ku kenal, sisanya.. hanya dari cerita-cerita temanku sendiri tentang kondisi orangtuanya.

Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Kita semua milikNya dan hanya kepadaNya lah kita kembali. Karenanya, tidak patut kita merasa sombong karena paling pandai, paling cantik, paling kaya dan paling terkenal. Lebih penting dari itu semua adalah sejauh mana persiapan kita dalam menghadapi kematian itu sendiri. Kematian merupakan suatu hal yang pasti. Meskipun kita berlindung di balik tembok yang kuat kalau memang sudah waktunya, tidak ada yang dapat menghalanginya. Pun kita bersembunyi di tempat yang menurut kita paling aman. Karena kematian datangnya tidak bisa diduga. Hanya Allah lah yang tahu.

Tugas kita hanyalah mempersiapkan diri sehingga ketika datang masanya untuk kita, kita sedang dan berada dalam keadaan mengingatNya, dalam keadaan beramal shalih. karena kita semua tentu ingin menghadapnya dalam keadaan husnul khatimah. Tinggal pilih.. dengan cara apa kita akan menemuiNya dan dalam hal apa orang akan mengingat waktu kematian kita.

Memang terkadang, tak mudah bagi kita untuk langsung menerima nasihat dari sebuah kematian. Kalau bahasa temanku, kalau belum orang terdekat yang meninggal.. belum terasa banget nasihatnya. Mungkin ada benarnya juga. Apalagi kalau orang yang meninggal tersebut tidak memberika tanda apa-apa, seperti sakit misalnya. Tapi apakah memang harus begitu teman? mudah2an tidak ya.

Ya Alloh biha... Ya Alloh biha.. Ya Alloh bihusnil khotimah.. Allohumma inni as aluka ridhoka wal jannah wana'udzubika min sakhotika wan naar.

Tidak ada komentar:

Kembali

Apa kabar semuanya? Lama saya tidak menulis lagi. Meski bukan tergolong penulis aktif, tapi keinginan selalu ada. tapi ya itu, keinginan y...