Beribu mata bergairah
pancaran tak terperi
bagai menunggu kekasih
nan lama dirindu
oh.. bila masanya untukku
degup jantung tak terarah
menanti saat bersua
anak sungaipun mengembang
perlahan di sudut mata
oh... bila masanya untukku
bagai air mengalir perlahan
bagai angin berhembus lembut
ragapun patuh
oh... bila masanya untukku
demi rinduku padamu
kekasih semua insan
lelahpun sirna
menjelma raga baru
penuh limpahan cinta
oh... bila masanya untukku
*penantian menuju raudhoh, Madinah*
Agustus 10, 2011
Agustus 05, 2011
(lagi) nasehat dariNya...
Subuh pagi ini dapat kabar kalo tetangga depan rumah, ka iis, meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un.. semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT dan keluarga yang dtinggalkan diberi kesabaran dan kekuatan.
Kematian dan kelahiran adalah sunnatullah, hadir setiap saat mewarnai hidup kita. Tapi akan menjadi lekat dalam ingatan jika itu datang pada orang-orang yang kita kenal apalagi keluarga sendiri. Maka tak heran jika disebutkan bahwa nasehat yang paling dekat adalah kematian. Dan yang membuatku ikut sedih, adalah melihat anaknya, lisa, yang berbaring lemas karena mungkin masih belum siap untuk ditinggalkan. Menurut rencana, ba'da lebaran ini dia akan menikah setelah kondisi ibunyalebih baik sehat. Namun Allah unya rencana yang lebih baik. Ibunya pergi pada saat rencana tersebut belum terwujud.
Sakit ka iis, ibunya lisa, memang sudah setahun lebih. Kesehariannya lebih banyak di tempat tidur. dan anak-anaknya serta suaminyalah yang dengan sabar merawatnya dengan kasih sayang. Hmmm jadi teringat akan almarhum abe, yang pergi dengan kondisi yang hampir sama. so, ibrahnya kudu banyak bersabar dan bersabar lagi menemani ummiku tersayang. Maafkan anakmu mi, yang belum dapat membuatmu bahagia.
Kematian dan kelahiran adalah sunnatullah, hadir setiap saat mewarnai hidup kita. Tapi akan menjadi lekat dalam ingatan jika itu datang pada orang-orang yang kita kenal apalagi keluarga sendiri. Maka tak heran jika disebutkan bahwa nasehat yang paling dekat adalah kematian. Dan yang membuatku ikut sedih, adalah melihat anaknya, lisa, yang berbaring lemas karena mungkin masih belum siap untuk ditinggalkan. Menurut rencana, ba'da lebaran ini dia akan menikah setelah kondisi ibunyalebih baik sehat. Namun Allah unya rencana yang lebih baik. Ibunya pergi pada saat rencana tersebut belum terwujud.
Sakit ka iis, ibunya lisa, memang sudah setahun lebih. Kesehariannya lebih banyak di tempat tidur. dan anak-anaknya serta suaminyalah yang dengan sabar merawatnya dengan kasih sayang. Hmmm jadi teringat akan almarhum abe, yang pergi dengan kondisi yang hampir sama. so, ibrahnya kudu banyak bersabar dan bersabar lagi menemani ummiku tersayang. Maafkan anakmu mi, yang belum dapat membuatmu bahagia.
Agustus 03, 2011
Nasehat tanpa kata
Beberapa bulan terakhir ini, aku mendapat nasehat yang... tak banyak kata terucap...tapi cukup bahkan sangat cukup mengingatkan diri yang lemah ini akan makna kehidupan itu sendiri.
Ya. beberapa orang tua temanku pergi menemuiNya. Sebagiannya cukup ku kenal, sisanya.. hanya dari cerita-cerita temanku sendiri tentang kondisi orangtuanya.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Kita semua milikNya dan hanya kepadaNya lah kita kembali. Karenanya, tidak patut kita merasa sombong karena paling pandai, paling cantik, paling kaya dan paling terkenal. Lebih penting dari itu semua adalah sejauh mana persiapan kita dalam menghadapi kematian itu sendiri. Kematian merupakan suatu hal yang pasti. Meskipun kita berlindung di balik tembok yang kuat kalau memang sudah waktunya, tidak ada yang dapat menghalanginya. Pun kita bersembunyi di tempat yang menurut kita paling aman. Karena kematian datangnya tidak bisa diduga. Hanya Allah lah yang tahu.
Tugas kita hanyalah mempersiapkan diri sehingga ketika datang masanya untuk kita, kita sedang dan berada dalam keadaan mengingatNya, dalam keadaan beramal shalih. karena kita semua tentu ingin menghadapnya dalam keadaan husnul khatimah. Tinggal pilih.. dengan cara apa kita akan menemuiNya dan dalam hal apa orang akan mengingat waktu kematian kita.
Memang terkadang, tak mudah bagi kita untuk langsung menerima nasihat dari sebuah kematian. Kalau bahasa temanku, kalau belum orang terdekat yang meninggal.. belum terasa banget nasihatnya. Mungkin ada benarnya juga. Apalagi kalau orang yang meninggal tersebut tidak memberika tanda apa-apa, seperti sakit misalnya. Tapi apakah memang harus begitu teman? mudah2an tidak ya.
Ya Alloh biha... Ya Alloh biha.. Ya Alloh bihusnil khotimah.. Allohumma inni as aluka ridhoka wal jannah wana'udzubika min sakhotika wan naar.
Ya. beberapa orang tua temanku pergi menemuiNya. Sebagiannya cukup ku kenal, sisanya.. hanya dari cerita-cerita temanku sendiri tentang kondisi orangtuanya.
Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Kita semua milikNya dan hanya kepadaNya lah kita kembali. Karenanya, tidak patut kita merasa sombong karena paling pandai, paling cantik, paling kaya dan paling terkenal. Lebih penting dari itu semua adalah sejauh mana persiapan kita dalam menghadapi kematian itu sendiri. Kematian merupakan suatu hal yang pasti. Meskipun kita berlindung di balik tembok yang kuat kalau memang sudah waktunya, tidak ada yang dapat menghalanginya. Pun kita bersembunyi di tempat yang menurut kita paling aman. Karena kematian datangnya tidak bisa diduga. Hanya Allah lah yang tahu.
Tugas kita hanyalah mempersiapkan diri sehingga ketika datang masanya untuk kita, kita sedang dan berada dalam keadaan mengingatNya, dalam keadaan beramal shalih. karena kita semua tentu ingin menghadapnya dalam keadaan husnul khatimah. Tinggal pilih.. dengan cara apa kita akan menemuiNya dan dalam hal apa orang akan mengingat waktu kematian kita.
Memang terkadang, tak mudah bagi kita untuk langsung menerima nasihat dari sebuah kematian. Kalau bahasa temanku, kalau belum orang terdekat yang meninggal.. belum terasa banget nasihatnya. Mungkin ada benarnya juga. Apalagi kalau orang yang meninggal tersebut tidak memberika tanda apa-apa, seperti sakit misalnya. Tapi apakah memang harus begitu teman? mudah2an tidak ya.
Ya Alloh biha... Ya Alloh biha.. Ya Alloh bihusnil khotimah.. Allohumma inni as aluka ridhoka wal jannah wana'udzubika min sakhotika wan naar.
Agustus 01, 2011
Mengkaji Ayat2Nya
Sebenarnya banyak pertanyaan yang
berseliweran di kepala tentang pertemuan yang akan kuhadiri hari ini. Namun, mendengar kata alquran saja, cukup membuatku bersemangat untuk menghadirinya. Gimana nggak, sudah lama sekali aku ingin hadir dalam pertemuan yang membahas tentang itu. belum lagi ada acara mabitnya. so pasti banyak bekalan dan suntikan semangat untuk mempelajari dan memahami lebih jauh alquran. Jadi, meskipun sudah melihat padatnya acara dalam email yang dikirim, subhanallah, the show must go on.
Dengan berbekal informasi dari sana sini, telpon sana sini(maaf ya ntha, membuat kamu bolak balik angkat telpon dari saya, miss u so much, sist), asal gak kesana sini yang gajebo yak... hehe.. Aku janjian sama temen, neneng, yang juga belum tau wilayah sana. Bismillah tawakkalna. Yang penting alamat tujuan dan nomor telepon sudah ada. dan beberapa alternatif jalan menuju ke sana sudah di dapat.
Alhamdulillah kami sampai juga di lokasi dengan plan B (coz bus yang ingin kita naiki gak lewat tol.. kan bakal sampe lama tuh), meski panas dan ada gangguan, entah disengaja atau tidak, oleh lelaki yang nampaknya ingin mendapat tempat yang lebih leluasa untuk tidur (duh pak... kesian donksama penumpang yang didepan.. tuh tangan enak banget yak menjulur ke kursi depan):(
Memenuhi sms koordinator yang wanti-wanti 'jangan telat yaa.., please'. padahal gak di wanti-wanti juga, insya Allah kita gak ada rencana telat. lain kalo misalnya salah naik bis.. atau macet.. atau alamatnya salah.. :(.
akhirnya kami sampe jam 08.10. di jadwal jam 08.00 registrasi. kirain mah dah banyak yang datang.. kami orang ketiga dan keempat yang datang, ada dua akhwat yang sudah datang duluan. Alhamdulillah... gak telat khann.. tapi nunggu.. hehe.
Suasana ruhiyyah sudah mulai dengan diperdengarkannya murottal quran. satu persatu peserta datang. dan mulai saling kenalan, paling tidak dengan yang di kanan kiri depan belakang tempat kita duduk.
Memandang wajah-wajah akhowatifillah yang tawadhu dan ghiroh yang tinggi terhadap acara ini, semakin membuat diri yakin, bahwa Allah telah mentakdirkanku hadir di sini untuk menjadi lebih baik, Insya Allah.
depok, 28 juli 2011
Dengan berbekal informasi dari sana sini, telpon sana sini(maaf ya ntha, membuat kamu bolak balik angkat telpon dari saya, miss u so much, sist), asal gak kesana sini yang gajebo yak... hehe.. Aku janjian sama temen, neneng, yang juga belum tau wilayah sana. Bismillah tawakkalna. Yang penting alamat tujuan dan nomor telepon sudah ada. dan beberapa alternatif jalan menuju ke sana sudah di dapat.
Alhamdulillah kami sampai juga di lokasi dengan plan B (coz bus yang ingin kita naiki gak lewat tol.. kan bakal sampe lama tuh), meski panas dan ada gangguan, entah disengaja atau tidak, oleh lelaki yang nampaknya ingin mendapat tempat yang lebih leluasa untuk tidur (duh pak... kesian donksama penumpang yang didepan.. tuh tangan enak banget yak menjulur ke kursi depan):(
Memenuhi sms koordinator yang wanti-wanti 'jangan telat yaa.., please'. padahal gak di wanti-wanti juga, insya Allah kita gak ada rencana telat. lain kalo misalnya salah naik bis.. atau macet.. atau alamatnya salah.. :(.
akhirnya kami sampe jam 08.10. di jadwal jam 08.00 registrasi. kirain mah dah banyak yang datang.. kami orang ketiga dan keempat yang datang, ada dua akhwat yang sudah datang duluan. Alhamdulillah... gak telat khann.. tapi nunggu.. hehe.
Suasana ruhiyyah sudah mulai dengan diperdengarkannya murottal quran. satu persatu peserta datang. dan mulai saling kenalan, paling tidak dengan yang di kanan kiri depan belakang tempat kita duduk.
Memandang wajah-wajah akhowatifillah yang tawadhu dan ghiroh yang tinggi terhadap acara ini, semakin membuat diri yakin, bahwa Allah telah mentakdirkanku hadir di sini untuk menjadi lebih baik, Insya Allah.
depok, 28 juli 2011
Langganan:
Komentar (Atom)
Kembali
Apa kabar semuanya? Lama saya tidak menulis lagi. Meski bukan tergolong penulis aktif, tapi keinginan selalu ada. tapi ya itu, keinginan y...
