Desember 31, 2010

Tempayan Retak

Seorang ibu yang sudah tua memiliki dua buah tempayan, yang dipikul di pundaknya dengan menggunakan sebatang bambu.

Salah satu dari tempayan itu setengah retak, sedangkan yang satunya tidak bercela dan selalu memuat air sehingga penuh.

Setibanya di rumah, setelah menempuh perjalanan panjang dari sungai, air di tempayan yang retak tinggal separuh.

Selama dua tahun hal ini berlangsung setiap hari, dimana ibu itu membawa pulang air hanya satu setengah tempayan saja.

Tentunya si tempayan yang utuh sangat bangga akan pencapaiannya.

Namun tempayan yang retak merasa malu akan kekurangannya dan sedih, sebab hanya bisa memenuhi setengah dari kewajibannya.

Selama dua tahun yang dianggapnya sebagai kegagalan, akhirnya dia berbicara kepada ibu tua di dekat sungai.

“Ibu, aku malu, sebab air bocor melalui tubuhku yang retak di sepanjang jalan menuju rumahmu.

Ibu itu tersenyum, “Tidakkah kau lihat bunga beraneka warna di jalur yang kau lalui, namun tidak ada di jalan yang satunya? Aku sudah tahu kekuranganmu, jadi aku menabur benih bunga di jalurmu. Dan setiap hari, dalam perjalanan pulang, kau menyirami benih-benih itu. Setelah dua tahun aku bisa memetik bunga-bunga cantik untuk menghias meja.”
“Kalau kau tidak seperti itu, maka rumah ini tidak seasri seperti ini, sebab tidak ada bunga.”

Kita semua mempunyai kekurangan memang, namun keretakan dan kekurangan itulah yang menjadikan hidup kita bersama menyenangkan dan memuaskan.

Kita harus menerima setiap orang apa adanya dan mencari yang terbaik dalam diri mereka.
Rekan-rekan sesama tempayan yang retak, semoga hari kalian menyenangkan. Jangan lupa mencium wanginya bunga-bunga di jalur kalian.
Terjemahan: Joanna Sunshine

* * *
Email dari seorang sahabat, mba’ Henny- dari temannya dari sebuah milis ....
* * *
sedang... akan...dan senantiasa ... menabur benih bunga dan mencium wanginya... di jalurku sendiri.. ^^

Tidak ada komentar:

Kembali

Apa kabar semuanya? Lama saya tidak menulis lagi. Meski bukan tergolong penulis aktif, tapi keinginan selalu ada. tapi ya itu, keinginan y...