Apa yang kita pikirkan di kepala kita, mungkin banyak sekali. Tapi kenyataannya, tidak semua orang mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dan pertanyaan yang seringkali muncul adalah dari mana kita akan memulainya?
Pada acara Teacher Writing Camp 2, hari pertama, 6 Juli 2013 di Wisma UNJ, pembicara pertama, Mba Meis Musida, dari XL, mengatakan bahwa menulis itu harus mengikuti passion diri sendiri. Jika minat dan kesenangan kita di bidang travelling, tulislah tentang travelling. Karena menurut beliau, menulis sesuai passion, akan membuat kita lebih bersemangat dan menikmati setiap prosesnya. Kemudian pikirkan ide yang sesuai dengan pengalaman kita sehari-hari, dan mulai dari hal-hal yang ringan. Penempatan foto atau gambar yang sesuai dengan tema juga dapat memberikan poin lebih pada tulisan. Apalagi jika disertai keterangan tentang foto yang kita gunakan.
Beliau berpesan, sesibuk apapun, mestinya kita dapat menyempatkan waktu untuk menulis. Banyak contoh orang-orang yang hebat dan super sibuk, seperti bapak Hasnul Suhaimi, CEO PT XL Axiata, masih menyempatkan diri untuk menulis di sela-sela kesibukannya. Hmm, sepertinya guraru juga bisa memanfaatkan waktu saat tidak mengajar untuk membuat tulisan.
Setelah menulis, Mba Meis menyarankan untuk mempublikasikan tulisan kita, dengan cara memasukkan link blog kita ke facebook atau twitter agar orang mau berkunjung, membaca tulisan kita dan memberikan masukan, saran dan kritik atas tulisan yang sudah kita buat. Intinya, jangan pernah berhenti untuk belajar dan belajar, berani mencoba dan menikmati setiap proses dalam membuat tulisan.
Satu cara yang perlu kita lakukan yakni merubah mind set kita dalam menulis. Pak Dahli Ahmad saat berbagi pengalaman menulisnya, memberikan kiat-kiatnya, antara lain; Mulailah dari hal-hal yang kecil, mulailah dari apa yang kita lihat, yang kita alami, dan apa yang kita rasakan dalam keseharian. Dan yang pasti, mulai dari sini. Dari ruang-ruang kelas kita. Karena hidup hanya sekali. Hiduplah yang berarti. Jadi teringat ungkapan penulis asma nadia, sebab dengan menulis, kita abadi.
Menulislah, dengan alasan apapun. Asal bukan untuk meremehkan. Kutipan Stephen King tersebut, mendasari keinginan Bu Siti Mugi Rahayu untuk selalu menulis. Dan salah satu alasannya, menulis mempunyai tujuan yang mulia. Menurutnya, menulis itu curahan jiwa, mengungkapkan apa yang kita rasakan. Jadi menulis, bukan sekedar hobi saja, tapi menulis harus yang kreatif dan berguna.
Kunci sukses pengalaman menulis Bu Mugi antara lain: tetap semangat, meyakinkan diri sendiri bahwa saya bisa, banyak membaca berbagai koran /surat kabar, dan ikuti prosesnya dengan tekun berlatih menulis setiap hari.
Pak guru Johannes Sumardianta, penulis ‘Guru Gokil Murid Unyu’ memaparkan bahwa membaca dan menulis adalah terapi. Untuk mengatasi defisit cacat pustaka dan defisit cacat sosial. Menulis, asupan gizi untuk jiwa, yang nantinya akan dikeluarkan dalam bentuk tulisan.
Meminjam istilahnya Pak Dwi Gautama, Guraru Kudu punya sesuatu, booo.. heheh. Karena dalam hidup ini kita selalu dihadapkan pada dua pilihan, hidup atau mati, berhasil atau gagal. Jadi, berbuat saja yang terbaik, berprestasi dan produktif. Kebaikan yang banyak pasti akan datang menghampiri kita.
Nah sekarang pertanyaannya adalah kita mulai menulis atau tidak?
Oleh-oleh hari pertama di Teacher Writing Camp 2, Wisma UNJ
Langganan:
Komentar (Atom)
Kembali
Apa kabar semuanya? Lama saya tidak menulis lagi. Meski bukan tergolong penulis aktif, tapi keinginan selalu ada. tapi ya itu, keinginan y...
-
Beberapa bulan terakhir ini, aku mendapat nasehat yang... tak banyak kata terucap...tapi cukup bahkan sangat cukup mengingatkan diri yang le...
-
Seorang tukang kayu yang sudah tua dan tidak lagi mampu bekerja karena alasan fisik, bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaa...
-
Alhamdulillah wa syukrulillah.. saat mendengar anak2 kelas 6 tahun ajaran 2012 ini lulus semuanya dengan nilai yang sangat memuaskan. Akh...